Mengenal Kearifan Suku Kajang di Tana Toa, Bulukumba

Mengenal Kearifan Suku Kajang di Tana Toa, Bulukumba

Mengenal Kearifan Suku Kajang di Tana Toa, Bulukumba

Berkunjung ke Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan tak lengkap rasanya kecuali tak menyambangi kawasan tradisi Tana Toa. Di sini kita sanggup datang ke peninggalan megalitik penduduk Kajang dan juga mempelajari kearifan di dalam melestarikan budaya yang bertahan ratusan lebih-lebih ribuan th. itu.

Secara geografis, suku Kajang berada di lokasi Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sekitar 56 kilometer dari pusat kota Bulukumba.

Para pengunjung yang berkunjung diharuskan mengikuti ketentuan tradisi yang berlaku. Tidak boleh manfaatkan kendaraan modern, Anda hanya boleh menunggangi kuda atau berjalan kaki. Pengunjungpun harus mengikuti khas pakaian tradisi kajang yang berwarna hitam itu.

Tana Toa yang bermakna tanah yang tertua. Nama ini berdasarkan kepercayan Suku Kajang yang mendiaminya, yang yakin Tana Toa adalah daerah yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan di wajah bumi ini.

Masyarakat Tana Toa yakin bahwa bumi ini adalah warisan nenek moyang yang berkwalitas dan seimbang. Oleh karena itu, anak cucunya harus beroleh warisan berikut bersama kualitas yang serupa persis. Kepercayaan inilah yang mengakibatkan lingkungan di Tana Toa terjaga kelestariannya.

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, penduduk tradisi memegang teguh ajaran leluhur yang disebutpasang ri kajang yang bermakna pesan di kajang. Ajaran gunakan itu, dinilai ampuh di dalam melestarikan hutan.

Sebagaimana dikutip di wisatasulawesi selatan.com, selaku pemimpin adat, Ammatoa membagi hutan di dalam tiga bagian. Yaitu, hutan keramat “hutan karamaka”, hutan perbatasan “hutan batasayya” dan juga hutan rakyat “hutan laura”.

Hutan keramat diakui sebagai hutan pusaka dan dijadikan kawasan hutan larangan untuk semua aktifitas, kecuali kesibukan ritual. rimba ini amat dilindungi, mereka meyakini kawasan ini sebagai daerah turunnya manusia terdahulu yang juga lenyap di daerah tersebut. Masyarakat juga yakin, hutan ini tempai naik turunnya arwah dari bumi ke langit.

Apabila berjalan pelanggaran pada ketentuan hutan yang seluas 317,4 hektar ini, maka dapat dikenakan denda Rp1,2 juta disempurnakan bersama sehelai kain putih dan juga mengembalikan barang yang sudah disita dari daerah tersebut.

Hutan perbatasan merupakan hutan yang sanggup ditebang beberapa model kayunya, dapat tetapi harus bersama izin Ammatoa dan kayu yang disita dari kawasan itu hanya untuk membangun layanan umum, dan juga untuk tempat tinggal bagi komunitas Ammatoa yang tidak mampu.

Selain itu, sebelum menebang pohon, orang berikut diwajibkan menanam pohon baru sebagai pengganti pohon yang dapat ditebang. Penebangan baru dapat dijalankan kecuali pohon pengganti sudah tumbuh subur. Penebangan dijalankan bersama manfaatkan alat tradisional dan juga mengangkatnya secara gotong royong keluar dari areal hutan.

Nah, sekiranya seorang menebang kayu di kawasan ini tanpa izin, maka dikenakan denda Rp800 ribu. Dan dikala berjalan kelalaian yang mengakibatkan kerusakan hutan, dikenakan denda Rp400 ribu. Kedua denda berikut disempurnakan bersama sehelai kain putih.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *