Didi Kempot, Menjaga Budaya Indonesia Lewat Nada

Didi Kempot, Menjaga Budaya Indonesia Lewat Nada

Didi Kempot, Menjaga Budaya Indonesia Lewat Nada

Lewat segudang karya, mendiang Didi Kempot tak semata menghadirkan tembang andalan mewakili mereka yang patah hati. Bersama lirik-lirik miris diiringi instrumen musik nan khas, pria yang meninggal dunia terhadap Selasa pagi, 5 Mei 2020 berikut terhitung mempunyai nilai-nilai budaya.

Sebut saja semua lagunya yang berbahasa Jawa. Kendati mengusung satu bahasa, lagu-lagu Didi tak terasa eksklusif hanya untuk satu kalangan. Narasi tak harus mampu berbahasa Jawa untuk nikmati karya The Godfather of Broken Heart pun sudah lantang disuarakan sejak th. lalu.

Belum ulang bicara mengenai instrumen campursari yang sukses ada di pada banyak type musik. Bahkan, mampu mirip harumnya bersama karya sederet musisi independent yang beberapa th. belakangan menjamur subur di di dalam negeri.

Totalitas ini kemudian terhitung terefleksi di dalam tampilan pemilik nama asli Dionisius Prasetyo tersebut. Di banyak panggung, Didi Kempot acap kali mengenakan pakaian tradisional, entah beskap, belangkon, maupun perpaduan keduanya.

Disambung ke kepribadiannya yang dikenal sangat simple kendati notabene sudah sukses melebarkan karier hingga ke kancah internasional. Misal, di dalam sebuah wawancara th. lalu, Didi Kempot mengaku makanan favoritnya adalah nasi kucing khas wedangan atau HIK Solo.

Jenis area makan satu itu sebetulnya sudah jadi keliru satu identitas yang melekat bersama kota Solo. Tak heran jika nama-nama wedangan yang diklaim jadi area favorit Didi kemudian memadai banyak dicari terhadap penggemar.

Dedikasinya untuk negeri tak berhenti hingga di situ. Lagu yang notabene jadi langkah Didi Kempot terasa mengakses bersama penggemarnya pun dijadikan ladang untuk mempromosikan sederet objek wisata di dalam negeri.

Melansir laman Shopee Indonesia, Rabu (6/5/2020), hal ini sengaja dijalankan Didi agar wilayah berikut makin lama dikenal banyak orang. Pria asal Solo, Jawa Tengah, itu percaya bahwa tiap tiap area miliki cerita.

Dari sebegitu banyak nama, keliru satu lagu Didi Kempot berjudul Banyu Langit disebut berikan dampak positif terhadap kunjungan wisatawan ke destinasi Gunung Api Purba Nglanggeran di kawasan Gunungkidul, Yogyakarta.

Selain Gunung Api Purba Nglanggeran, Stasiun Balapan yang berlokasi di Solo, Jawa Tengah terhitung jadi keliru satu nama yang keluar di lagu Didi. Fenomena mirip pun berlangsung terhadap Terminal Tirtonadi, terhitung berlokasi di Solo.

Kemudian, nama Pasar Klewer terhitung ikut terseret ke sekian banyak wilayah inspirasi tembang Didi. Berlanjut ke Jalan Malioboro nan tersohor di Yogyakarta yang terhitung berikut di dalam lagu Didi.

Disusul Pantai Klayar di Pacitan yang tenar dapat lapisan batu karang menawan, namun jadi ‘saksi’ patah hati Didi dapat janji tak kunjung ditepati. Pun bersama keindahan panorama jalur pada Karanganyar–Magetan.

Berada di bayang-bayang megah Gunung Lawu bersama pinus maupun petak-petak sawah berpola sedemikian rupa berjejal di kanan-kiri, serta kabut yang mampu turun kapanpun, jalanan ini diceritakan menaruh kenangan tersendiri.

Kunjungi Juga : Berita Seni & Hiburan

Lalu, di Jembatan Suramadu, Didi berkisah mengenai kerinduan seseorang. Suramadu sendiri merupakan jembatan penghubung Surabaya dan Madura bersama nuansa syahdu nan romantis di sore hari.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *