Cerita Mahasiswa UGM Tekuni Karawitan Sampai Mentas di Kraton Jogja

Cerita Mahasiswa UGM Tekuni Karawitan Sampai Mentas di Kraton Jogja

Cerita Mahasiswa UGM Tekuni Karawitan Sampai Mentas di Kraton Jogja

Di tengah gencarnya invasi budaya luar, seni asli Indonesia tetap berjaya dan tunjukkan eksistensinya. Hal ini pasti tidak lepas dari peran para generasi muda yang mempertahankan, terhitung dalam karawitan Jawa.

Salah seorang anak muda yang setia bersama menekuni karawitan adalah Gabriel Dania Rekalino, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Ketertarikan terhadap gamelan apalagi membawa Reka, begitu ia akrab disapa, sanggup pentas di Kraton Jogja.
Bandar Taruhan
Reka menyampaikan, dirinya tidak terlahir dari keluarga seniman. Namun sejak kecil ia akrab bersama karawitan, menjadi dari kakeknya yang menyukai seni wayang, karawitan, sampai tari.

Juga sang nenek yang sempat tergabung dalam grup karawitan dan bermain kenong. Reka yang pas itu berusia empat tahun, kerap diajak sang mbah putri bermain gamelan.

“Ketika aku nonton orang nabuh gamelan, mereka layaknya tanpa beban, keren banget,” kata Reka pas dihubungi Liputan6.com, Selasa, 26 Januari 2021.

Kecintaan terhadap karawitan lantas mengantar Reka turut ekstrakurikuler karawitan pas duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Momen itu menjadi kali pertama mahasiswa UGM angkatan 2018 ini bermain gamelan.

“Waktu itu pertama aku main kenong, lalu tukar ke demung. Saya lihat tersedia instrumen yang menarik, yakni kendang. Saya minta diajari guru aku pas itu Pak Suharjo dan selanjutnya bisa,” lanjutnya.

Lulus SMP, Reka masuk SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan di sana kembali mendaftar karawitan dan diajari oleh sang guru, Anon Suneko. Kala itu, ia dan grup karawitan Gangsa Kukila kerap tampil di lebih dari satu kesempatan.

Mentas di Kraton Jogja

Memasuki perguruan tinggi, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Antropologi, UGM ini tidak melewatkan peluang dan mendaftar di grup karawitan UGM, Swagayugama. Saat itu Reka kembali duduk bersama instrumen kendang.

“Keinginan aku pas itu masuk Swagayugama, memiliki satu mimpi tersendiri yakni aku pengin nabuh di Kraton, selanjutnya sanggup pentas di Kraton,” ungkap Reka.

Oktober 2018 menjadi kali pertama Reka mentas di Kraton Jogja. “Pertama pentas aku tidak di kendang, namun aku di bonang,” jelasnya.

“Swagayugama terdaftar di Kraton untuk teratur isi pentas Paket Wisata. Swagayugama terjatah sekitar tiga bulan sekali pentas di Kraton,” tambah Reka.

Ia dan grupnya tampil di Kraton setiap hari Minggu untuk karawitan dan tari, namun bersama sajian utama tari. Kala itu, disampaikan Reka, tersedia lebih dari satu materi tari untuk kendang yang belum ia kuasai, maka dari itu ia tersedia di posisi bonang.

kunjungi Juga : Berita Seni & Hiburan

“Tapi setelah itu, bulan selanjutnya, Februari 2019 itu sudah di kendang sampai sekarang. Saya menjadi sekitar jam setengah 11 bunyi pembuka dan jam 12–12.30 sudah selesai,” tutur Reka.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *