Akulturasi adalah Percampuran Kebudayaan, Kenali Proses dan Dampaknya

Akulturasi adalah Percampuran Kebudayaan, Kenali Proses dan Dampaknya

Akulturasi adalah Percampuran Kebudayaan, Kenali Proses dan Dampaknya

Akulturasi adalah tidak benar satu bagian pertalian sosial di dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini berlangsung akibat pertalian sosial di dalam penduduk yang berbeda-beda suku, agama, ras, dan golongannya. Aktivitas kontak sosial antarbudaya berdampak pada munculnya proses akulturasi.
Pasang Bola
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul waktu suatu kelompok manusia bersama kebudayaan khusus dihadapkan bersama unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing ini lambat laun diterima dan diolah tanpa menghilangkan unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.

Akulturasi adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling memengaruhi. Singkatnya, akulturasi adalah proses adaptasi kebudayaan bersama tetap menjaga kebudayaan lama.

Berikut Liputan6.com rangkum dari beraneka sumber, Minggu (7/3/2021) perihal akulturasi adalah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tersedia tiga pengertian akulturasi yang dapat kamu pahami. Hal ini dapat diamati secara umum, antropologi, dan secara lingusitik. Secara umum, akulturasi adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling memengaruhi.

Sementara itu, pengertiaan secara antropologi, akulturasi adalah proses masuknya dampak kebudayaan asing di dalam suatu masyarakat, beberapa menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan beberapa berusahan menolak dampak itu.

Secara linguistik, akulturasi adalah proses atau hasil pertemuan kebudayaan atau bahasa di pada bagian dua penduduk bahasa, ditandai oleh peminjaman atau bilingualisme.

Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul waktu suatu kelompok manusia bersama kebudayaan khusus dihadapkan bersama unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing ini lambat laun diterima dan diolah tanpa menghilangkan unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Singkatnya, akulturasi adalah proses adaptasi kebudayaan bersama tetap menjaga kebudayaan lama.

Contoh akulturasi adalah seni wayang Indonesia yang merupakan perpaduan kesenian Jawa bersama cerita dari India, layaknya Mahabarata. Selain itu, dukungan nama pada anak orang Indonesia terhitung dapat dijadikan misal akulturasi. Nama anak Indonesia kebanyakan merupakan kombinasi dari budaya Indonesia sendiri yang dipadukan bersama kebudayaan lain, layaknya nama Arab.

Proses Akulturasi
Setiap manusia memeroleh suatu proses budaya. Proses sosialisasi dan pendidikan budaya yang ditanamkan jadi prilaku dan kepribadian yang telah melakat pada proses saraf di setiap individu. Dengan proses belajar ini manusia kudu berinteraksi dan berkomunikasi antar sesama, proses ini didapatkan pada setiap individu yang dinamakan enkulturasi.

Budaya dan individu mempunyai pertalian di dalam proses enkulturasi sehingga manusia dapat mengatur diri bersama keadaan. Jika tersedia individu imigran atau pendatang yang masuk pada wilayah pribumi, maka imigran ini belajar mengatur dan menciptakan situasi-situasi yang relevan pada penduduk pribumi.

Pola mengatur individu imigran ke wilayah penduduk pribumi bersama adanya pergantian mengatur yang baru inilah yang disebut akulturasi. Ciri khas dari budaya setempat tetap dipertahankan dan saling melengkapi bersama unsur kebudayaan asing.

Tapi di dalam prosesnya, akulturasi dapat berlangsung gara-gara pemaksaan dan tentunya terhitung secara damai.

Akulturasi bersama Pemaksaan. Akulturasi yang dilaksanakan bersama cara pemaksaan contohnya layaknya yang dilaksanakan penjajah di Indonesia, proses penyesuaian tidak bertahan lama gara-gara akulturasi itu hilang kalau penjajah pun di usir di indonesia.

Akulturasi bersama Cara Damai. Akulturasi yang dilaksanakan bersama cara damai dapat bertahan lama kalau dibandingkan bersama cara pemaksaan. Proses penyesuaiannya terlampau lama dan menempel erat di dalam masyarakat. Akulturasi sendiri dapat muncul gara-gara adanya kontak kebudayaan dari kebudayaan asing yang lambat laun diterima oleh kebudayaan setempat tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan aslinya.

Pada akulturasi, sering kali berlangsung pergantian dan perkembangan kebudayaan penduduk setempat. Perubahan-perubahan selanjutnya dapat berdampak positif maupun negatif bagi masyarakat. Dampak-dampak akulturasi adalah sebagai berikut:

– Adisi. Adisi adalah penambahan unsur-unsur kebudayaan lama bersama unsur-unsur kebudayaan baru sehingga timbul pergantian struktural atau tidak mirip sekali.

– Sinkretisme. Sinkretisme adalah perpaduan unsur-unsur kebudayaan lama bersama unsur-unsur kebudayaan baru bersama tidak meninggalkan jati diri tiap-tiap dan membentuk proses kebudayaan baru.

– Substitusi. Substitusi adalah unsur-unsur kebudayaan yang telah tersedia atau terdahulu diganti oleh unsur-unsur kebudayaan yang baru, terlebih yang dapat memenuhi fungsinya. Dalam hal ini, barangkali berlangsung pergantian struktural terlampau kecil.

– Dekulturisasi. Dekulturisasi adalah tumbuhnya unsur-unsur kebudayaan yang baru untuk memenuhi beraneka keperluan baru gara-gara pergantian situasi.

– Rejeksi. Rejeksi adalah penolakan unsur-unsur pergantian yang berlangsung terlampau cepat sehingga beberapa besar orang tidak dapat menerimanya. Hal ini dapat menimbulkan penolakan, bahkan pemberontakan atau gerakan kebangkitan.

Perbedaan Akulturasi bersama Asimilasi
Berbeda bersama akulturasi yang tetap menjaga kebudayaan lama, asimilasi sebabkan budaya asli hilang dan membentuk budaya baru. Asimilasi adalah suatu proses penggabungan dua kebudayaan berbeda jadi suatu kebudayaan baru.

Kunjungi Juga : Berita Seni & Hiburan

Proses asimilasi ini dapat diartikan sebagai suatu peleburan budaya bersama menghilangkan budaya asli jadi suatu budaya baru yang lebih dominan. Perbedayaa asimiliasi dan akulturasi adalah, akulturasi tidak perlu penerimaan dari luar kelompok, sedang asimilasi perlu penerimaan gara-gara merupakan suatu budaya baru atas peleburan dari dua kebudayaan lama.

Selain itu, asimilasi terhitung perlu orientasi positif pada luar kelompok. Secara lebih lanjut, terhitung perlu adanya identifikasi bersama kelompok luar.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *